Knowledge Base Society

8 03 2010

Saya sering mendengar istilah Knowledge Base Society, khususnya kalau ada diskusi tentang bagaimana masyarakat di negara maju mengelola kegiatannya sehari-hari. Salah satu definisi Knowledge Base Society yang saya temukan di internet adalah bahwa masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge-based society) adalah suatu tipe masyarakat diperlukan untuk bersaing dan berhasil dalam merubah dinamika ekonomi dan politik yang terus berkembang dalam dunia modern sekarang ini. Kelompok masyarakat seperti ini menunjuk pada masyarakat yang berpendidikan dan yang oleh karena itu tergantung pada pengetahuan anggotanya dalam mempercepat inovasi, keduniausahaan dan perkembangan perekonomian kelompok masyarakat tersebut.

Terkait dengan hal ini, dalam suatu perkuliahan yang pernah saya tekuni mengenai pengetahuan (knowledge) disebutkan bahwa contoh suatu pengetahuan kalau dituliskan dalam bentuk notasi adalah seperti ini:
IF A THEN B
IF A AND B THEN C
IF A OR B THEN C
yang artinya bahwa suatu keadaan akan berakibat pada keadaan yang lain. Suatu alasan akan mendasari suatu pemilihaan solusi tertentu. Suatu keadaan di masa yang lampau akan mempengaruhi keadaan yang akan datang. Suatu sebab akan mempunyai akibat.

Mungkin di sini, saya ingin menghubungkan contoh-contoh notasi pengetahuan yang disebutkan di atas dengan konsep knowledge base society. Bahwa dalam melakukan kegiatannya sehari-hari baik di rumah ataupun di luar rumah, kelompok masyarakat yang sudah bisa dikatakan sebagai kelompok knowledge base society, sudah bisa dan biasa menerapkan aturan-aturan yang berdasarkan pada pengetahuan-pengetahuan umum yang ada, baik yang bersifat ilmiah, pengalaman ataupun common sense. Kelompok masyarakat seperti ini akan selalu mencari alasan atas apa yang sudah dan akan diputuskan atau diperbuat, apa yang sedang dilaksanakan orang lain baik tetangga, organisasi, maupun kepemerintahan yang ada, sebagai bagian dari penerapan pengetahuan yang ada.

Beberapa hal di masyarakat menyebabkan saya menyimpulkan bahwa baru sebagian masyarakat Indonesia yang sudah bisa disebut masyarakat yang berbasis pengetahuan. Kelompok-kelompok yang masih berpendidikan rendah khususnya, banyak melakukan dan menerapkan sesuatu kadang-kadang tanpa mengetahui kenapa mereka harus melakukan itu. Jangankan kelompok masyarakat berpendidikan rendah, masyarakat berpendidikan tinggipun, saya lihat kadang-kadang tidak tahu apa yang sebenarnya sedang dilakukannya sekarang dan untuk apa melakukan hal itu. Secara moral lagi, dengan adanya kasus peradilan yang sudah teratasi antara KPK, Kepolisian dan Kejaksaan, menandakan bahwa kegiatan yang mereka lakukan seakan tidak mengindahkan bahwa apa yang mereka lakukan akan berakibat pada keadaan atau kegiatan yang lain berikutnya. Memutuskan untuk menahan seseorang, memutuskan untuk mengatakan bahwa ada fakta pendukung, tentu akan berakibat pada kegiatan yang lain.

Dilihat dari segi notasi pengetahuan yang disebutkan di atas ‘IF A THEN B’, maka sebenarnya banyak juga yang telah menerapkan pengetahuan dalam kehidupan mereka sehari-hari, termasuk kasus KPK, Kepolisian, dan Kejaksaan yang sudah terselesaikan tersebut. Tetapi konteksnya kemungkinan saja salah. Bisa saja konsepnya menjadi seperti ini:
IF A THEN ‘AKU’ B
IF A AND B THEN ‘AKU’ C
IF A OR B THEN ‘AKU’ C
Jadi mungkin ada keakuannya kental sehingga konsep notasi umum yang disebutkan di atas menjadi sedikit rancu.

Bercermin kepada hal-hal yang terjadi di dunia sekarang ini, saya sendiri melihat, bahwasannya negara-negara maju dan negara-negara yang sedang menuju arah maju, sekarang ini sedang berusaha untuk menjadikan masyarakatnya suatu masyarakat yang berbasis knowledge base. Dengan membentuk kelompok masyarakat seperti itu, pemerintahnya tidak akan terlalu sibuk, karena yang menggerakkan kehidupan masyarakatnya adalah masyarakat itu sendiri.

Kalau Indonesia mau dikatakan termasuk negara yang menuju arah maju, pemahaman tentang knowledge base society ini mungkin sebaiknya lebih didalami dan dipahami. Unsur masyarakat seperti misalnya orang tua, tokoh masyarakat dan yang paling khusus para pendidik baik guru maupun dosen, seharusnya lebih memahami tentang ini, karena kalau tidak individu-individu yang menjadi harapan bangsa akan tumbuh tanpa mempunyai pengetahuan yang mencukupi atau mempunyai pengetahuan tetapi pengetahuan yang salah. Karena belakangan ini juga saya mendengar banyak tenaga pendidik, yang fungsi utamanya secara khusus adalah untuk menambah pengetahuan para siswanya, melakukan hal-hal yang tidak sesuai dan menerapkan berbagai kegiatan dengan notasi:
IF A THEN ‘AKU’ B
IF A AND B THEN ‘AKU’ C
IF A OR B THEN ‘AKU’ C
Jadi akunya lebih menonjol. Seperti misalnya, kalau ilmu yang diperlukan diajarkan semua di kelas, aku tidak dapat proyek untuk membuka les. Kalau ilmu yang diperlukan diajarkan semua di kelas, anak didikku yang les dengan aku tidak dapat nilai tertinggi di kelas. Yang seharusnya ada kalau melihat konsep IF A THEN B, adalah kalau ilmu yang diperlukan diajarkan semua di kelas, anak didikku akan menjadi anak yang pintar semua.

Knowledge Base Society menurut pandangan saya sebenarnya merupakan konsep yang sangat bagus sekali yang mengijinkan kita semua untuk menjadi orang pintar, orang jujur, orang bijaksana, dan orang yang berwawasan. Kalau setiap orangnya dari penduduk Indonesia bisa mengacu pada Knowledge Base Society (tanpa konsep ‘AKU’), tentu semuanya akan menjadi baik dan Indonesia akan menjadi negara yang besar dan maju.

Demikian dan semoga bisa menjadi bahan renungan.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: