Registrasi Penduduk Online Part 6

18 09 2009

Sudah beberapa hal saya post-kan terkait dengan perlunya suatu Sistem Registrasi Online dan bahaya-bahaya yang mungkin muncul kalau sistem ini tidak secepatnya dikembangkan. Berikut ini ada satu hal lagi, bahaya yang bisa dihindari apabila sistem registrasi online ini diterapkan.

Beberapa pemasalahan keuangan seperti pencucian uang, pembelian barang-barang berharga seperti mobil, tanah, rumah dan lain-lain dalam jumlah besar, penggelapan pajak merupakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan keuangan yang bersifat fatal yang sangat menggerogoti keuangan negara. Beberapa oknum yang melakukan kejahatan di bidang keuangan, mungkin akan dapat melakukan hal-hal yang tidak diinginkan dengan mendaftarkan dirinya dalam beberapa KTP yang berbeda-beda, sehingga kegiatan-kegiatan mereka yang menyalahi aturan negara, dapat mereka sembunyikan.

Saya hanya berpikir, kalau saja registrasi penduduk online ini tersedia, tentunya kegiatan-kegiatan kejahatan yang berhubungan dengan keuangan akan dapat dihindari. Satu KTP akan dapat melacak semua kegiatan sekaligus termasuk pajak, penyalah gunaan keuangan seperti pencucian uang dan lain-lain. Kepemilikan terhadap tanah, barang berharga, mobil dan lain-lain akan bisa dideteksi. Kemudian kepemilikan usaha juga akan bisa dipantau. Hal-hal seperti ini sangat-sangat terkait dengan bagaimana keuangan negara itu bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Sungguh, registrasi penduduk online ini, bukan lagi hanya sekedar mencatat data penduduk, tapi bisa dimanfaatkan hampir ke seluruh aspek kehidupan masyarakat dan kegiatan pelaksanaan kepemerintahan, serta menjaga agar berbagai kejahatan yang sengaja dilakukan dengan memanfaatkan kecarut marutan registrasi penduduk dapat dihindarkan.

Registrasi Penduduk Online is a must, certainly.

Tulisan-tulisan terkait sistem registrasi online ini dapat dilihat pada link Registrasi Penduduk Online Part 1, Registrasi Penduduk Online Part 2, Registrasi Penduduk Online Part 3, Registrasi Penduduk Online Part 4, dan Registrasi Penduduk Online Part 5.





Registrasi Penduduk Online Part 5

14 04 2009

Pemilu Legislatif sudah berakhir. Tapi permasalahan pemilu belum berakhir. Salah satu yang menjadi masalah besar adalah Daftar Pemilih Tetap (DPT).

Sungguh, Komisi Pemilihan Umum (KPU) terlalu menggampangkan permasalahan. Melihat bahwa registrasi penduduk yang dilaksanakan oleh Dinas Kependudukan tidak pernah benar, Sensus Penduduk yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik juga masih mengandung error, tetapi KPU seolah-olah menutup mata dan menyerahkan pemutakhiran DPT kepada aparat desa begitu saja, tanpa melakukan pemantauan, pengawasan dan sosialisasi yang memadai. Hasilnya ya beginilah, kalau errornya dihitung jumlah penduduk yang mempunyai hak pilih tapi tidak terdaftar mungkin bisa mencapai 50%.

Saya contohkan di keluarga saya, dari 5 anggota keluarga yang mempunyai hak memilih, hanya 2 orang yang muncul di DPT. Kalau semua anggota keluarga saya tidak muncul sama sekali sih masih bisa dimengerti, bahwa kemungkinan besar keluarga saya belum pernah dikunjungi untuk didaftar, tetapi ini hanya sebagian saja yang muncul. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana mekanisme mereka memunculkan dan menghapus nama-nama yang ada. Kalau orang yang tadinya terdaftar, tentu saja mereka akan yakin akan tetap terdaftar, sebelum mereka melaporkan bahwa mereka pindah rumah atau wafat.

Sebenarnya ulasan mengenai hal ini sudah saya sempat tulis juga, dimana tulisan itu saya kaitkan dengan Registrasi Penduduk Online. Tulisan tersebut bisa dibaca di Registrasi Penduduk Online Part 2, yang sebenarnya sudah saya tulis setahun yang lalu.

Selain permasalahan Pemilu tersebut, ada beberapa hal juga yang terkait dengan keberadaan Registrasi Penduduk Online. Salah satu hal yang mungkin terpengaruh juga dengan tidak adanya Registrasi Penduduk Online ini adalah masalah keamanan. Saya hanya terpikir sewaktu terjadi bom Bali. Kalau saja waktu itu, registrasi online itu sudah ada, tentu saja melacak orang-orang yang mempunyai niat tidak baik, misalnya orang-orang yang sering menyamarkan nama untuk keperluan yang tidak baik khususnya dalam bidang keamanan akan bisa dilaksanakan dengan mudah. Keperluan untuk membeli kamera CCTV untuk memantau kegiatan orang-orang yang mencurigakan, akan bisa digantikan dengan melakukan pemantauan menggunakan fasilitas dan hal-hal yang sudah disediakan di Registrasi Penduduk Online ini.

Kalau ingin melihat tulisan saya yang lain tentang Registrasi Penduduk Online dan masalah serta akibat yang ditimbulkan kalau sistem tersebut tidak segera dibuat, bisa membuka di link Registrasi Penduduk Online Part 1, Registrasi Penduduk Online Part 3, dan Registrasi Penduduk Part 4.





Registrasi Penduduk Online Part 4

10 01 2009

Beberapa tahun belakangan ini, beberapa wilayah di Indonesia baik di tingkat kabupaten/kota maupun provinsi berlomba untuk berusaha menata catatan kependudukan di wilayah mereka masing-masing, khususnya setelah adanya otonomi. Tapi tidak sadarkah bahwa beberapa kegiatan yang dilakukan bisa mengefesiensikan biaya/anggaran negara dalam jumlah yang cukup besar. Salah satu contoh yang sudah saya ulas dalam tulisan saya tentang Registrasi Penduduk Online Part 2 adalah tentang pendaftaran pemilih dalam kegiatan pemilu. Beberapa efesiensi lain yang bisa menjadi dampak antara lain:

  • Pengembangan sistem informasi yang sebenarnya memerlukan hanya satu saja di tingkat nasional, harus dilakukan di tingkat wilayah masing-masing. Kalau di Indonesia ada 349 kab/kota misalnya, berarti pemerintah paling sedikit harus menyediakan 349 anggaran yang sama dalam pengembangan sistem informasi kependudukan.
  • Belum lagi, kegiatan seperti pendaftaran penduduk miskin, pendaftaran siswa sekolah, pendaftaran balita, pendaftaran wanita usia subur dan pendaftaran-pendaftaran terkait penduduk jenis lainnya, yang seharusnya bisa diintegrasikan menjadi satu kesatuan dengan sistem informasi kependudukan yang ada dengan sedikit tambahan-tambahan di sana-sini, harus dilakukan berulang kali, membuat pemerintah harus menyediakan dana/anggaran untuk kegiatan-kegiatan yang sebenarnya tujuannya adalah sama atau sejenis.

Kalau saja dana-dana ini bisa diefesiensikan untuk membiayai orang-orang atau keluarga-keluarga yang susah untuk hanya sekedar melangsungkan kegiatan hidup mereka. Tentu akan lebih bermanfaat lagi.





Registrasi Penduduk Online Part 3

28 10 2008

Kebetulan saya punya pengalaman melakukan proses registrasi penduduk sewaktu di Jepang dulu sekitar tahun 1989-1996-an. Saya pertama masuk Jepang melalui Tokyo. Pertama kali saya mempunyai KTP Jepang dikeluarkan oleh pemerintahan Kotamadya Tokyo. Kemudian setelah setahun di Tokyo saya pindah ke Prefektur (Provinsi) Tokushima. Setelah settle dengan kepindahan, saya melapor ke pemerintah Prefektur Tokushima. Yang dilakukan mereka saat itu hanya mencatat alamat saya yang baru (di Tokushima) di kolom yang disediakan di bagian belakang KTP, kemudian mendaftarkan alamat saya yang baru tersebut di sistem komputernya, tanpa menanyakan detail keterangan dari saya. Saya pindah tempat tinggal beberapa kali selama saya tinggal di Prefektur Tokushima. Setiap berpindah rumah, saya selalu melaporkan diri ke pemerintah prefektur. Saya hanya perlu mengikuti prosedur yang sama setiap kali melapor. Dan prosedur perubahan alamat hanya memerlukan waktu kurang dari 1 menit.

Memikirkan waktu dan tenaga, seperti ini, dimana pengurusan KTP bisa memerlukan waktu sampai sehari dua hari di beberapa tempat di Indonesia, dan keperluan untuk mengurus KTP dari awal di setiap tempat dimana kita akan berdomisili, sungguh hal tersebut sangat tidak efisien. Kita sepatutnya mencontoh hal-hal yang baik yang sudah terbukti berhasil diterapkan seperti halnya prosedur yang diterapkan di Jepang ini.





Bunch of Words Against Corruption

8 08 2008

Suatu waktu dalam minggu ini, sambil mengendarai mobil menuju ke tempat kerja dan setelah melihat berita pagi, saya berpikir, kenapa orang bisa melakukan korupsi dengan jumlah-jumlah yang demikian besarnya. Saya jadi berpikir apa kurangnya pengalaman hidup mereka sehingga mereka harus berjuang begitu berat dan harus melakukan korupsi serta kebohongan untuk membuat hidup mereka menjadi lebih senang dan tenang.

Berpikir seperti itu, saya jadi berpikir, apa kata-kata yang kurang sehingga hal-hal seperti korupsi dalam jumlah besar itu bisa terjadi. Mungkin ini sekumpulan kata-kata yang sekiranya perlu untuk lebih didalami lagi dan mungkin harus diusahakan untuk bisa diteruskan lebih lanjut ke generasi yang akan datang:

CARING, RESPONSIBLE, AFFECTION, BROADER VIEW AND THINKING, HAPPY WHEN OTHERS HAPPY AND SAD WHEN OTHERS SAD (not the other way around), FAIR PLAY, SELF ESTEEM and ……. will be continued if there is any.

Hope I will not be the one just like them :(