春よ、来い by 松任谷由実

22 05 2009

春よ、来い by 松任谷由実 (Haru Yo, Koi / Come here, Spring by Matsutoya Yumi). Kapan musim semi akan datang lagi.





Registrasi Penduduk Online Part 5

14 04 2009

Pemilu Legislatif sudah berakhir. Tapi permasalahan pemilu belum berakhir. Salah satu yang menjadi masalah besar adalah Daftar Pemilih Tetap (DPT).

Sungguh, Komisi Pemilihan Umum (KPU) terlalu menggampangkan permasalahan. Melihat bahwa registrasi penduduk yang dilaksanakan oleh Dinas Kependudukan tidak pernah benar, Sensus Penduduk yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik juga masih mengandung error, tetapi KPU seolah-olah menutup mata dan menyerahkan pemutakhiran DPT kepada aparat desa begitu saja, tanpa melakukan pemantauan, pengawasan dan sosialisasi yang memadai. Hasilnya ya beginilah, kalau errornya dihitung jumlah penduduk yang mempunyai hak pilih tapi tidak terdaftar mungkin bisa mencapai 50%.

Saya contohkan di keluarga saya, dari 5 anggota keluarga yang mempunyai hak memilih, hanya 2 orang yang muncul di DPT. Kalau semua anggota keluarga saya tidak muncul sama sekali sih masih bisa dimengerti, bahwa kemungkinan besar keluarga saya belum pernah dikunjungi untuk didaftar, tetapi ini hanya sebagian saja yang muncul. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana mekanisme mereka memunculkan dan menghapus nama-nama yang ada. Kalau orang yang tadinya terdaftar, tentu saja mereka akan yakin akan tetap terdaftar, sebelum mereka melaporkan bahwa mereka pindah rumah atau wafat.

Sebenarnya ulasan mengenai hal ini sudah saya sempat tulis juga, dimana tulisan itu saya kaitkan dengan Registrasi Penduduk Online. Tulisan tersebut bisa dibaca di Registrasi Penduduk Online Part 2, yang sebenarnya sudah saya tulis setahun yang lalu.

Selain permasalahan Pemilu tersebut, ada beberapa hal juga yang terkait dengan keberadaan Registrasi Penduduk Online. Salah satu hal yang mungkin terpengaruh juga dengan tidak adanya Registrasi Penduduk Online ini adalah masalah keamanan. Saya hanya terpikir sewaktu terjadi bom Bali. Kalau saja waktu itu, registrasi online itu sudah ada, tentu saja melacak orang-orang yang mempunyai niat tidak baik, misalnya orang-orang yang sering menyamarkan nama untuk keperluan yang tidak baik khususnya dalam bidang keamanan akan bisa dilaksanakan dengan mudah. Keperluan untuk membeli kamera CCTV untuk memantau kegiatan orang-orang yang mencurigakan, akan bisa digantikan dengan melakukan pemantauan menggunakan fasilitas dan hal-hal yang sudah disediakan di Registrasi Penduduk Online ini.

Kalau ingin melihat tulisan saya yang lain tentang Registrasi Penduduk Online dan masalah serta akibat yang ditimbulkan kalau sistem tersebut tidak segera dibuat, bisa membuka di link Registrasi Penduduk Online Part 1, Registrasi Penduduk Online Part 3, dan Registrasi Penduduk Part 4.





An Hectic Month

3 04 2009

March 2009 is really an hectic month for me. I could not believe that I can handle such a month, and I am happy to handle it relatively right.

3-6 March 2009: The National Technical Meeting of my office was held in Bali. I had to join the meeting as a participant as well as an informal member of the committee. Those were really two things that could not be combined and handled easily. Sometimes, I could not even have the time to listen the things discussed in the meeting.

6-8 March 2009: My department continued the meeting in Bali to discuss some technical stuffs in more details. This was really difficult, since the number of committee reduced drastically, and at one time, I was the only committee available for that meeting.

11 March 2009: My last visit to Jembrana as the acting head of our Jembrana office.

16 March 2009: The installment of the definite head of the Jembrana office.

17-19 March 2009: The procession of Galungan Celebration in Bali.

19 March 2009: My father-in-law has passed away and the funeral procession was held in Klungkung.

21-24 March 2009: Provincial Technical Meeting, fortunately it was held in Denpasar, so I did not have travel a long way, since I have to travel back and forth Denpasar-Klungkung.

25-27 March 2009: The procession of Nyepi Celebration in Bali.

27-29 March 2009: The procession of Kuningan Celebration in Bali.

28 March 2009: My mother-in-law has passed away and the funeral procession was held in Klungkung.

30-31 March 2009: International Conference on Tourism Statistics was held in Nusa Dua, Bali. Though, I was not a participant, neither a member of the committee, since there were some guests of our headquarter office also coming to the conference, I had to take care of two guests there (Paul Cheung from the UN and Eduardo Pereira Nunes from Brasil) to travel around Denpasar. One of my friends from Australia (Daniel Pambudi), also came to the conference, but unfortunately I could only meet and talk to him for about 10 minutes. That was such a pity, since there was a lot to talk about, since I have not met him for a long time.

The things that made me a bit tired during these times were the funeral processions of my father-in-law and my mother-in law, since they could not be finished simply in one day. I took about 7 days each to finish starting when they died. So it was a bit hectic, since after the funeral procession of my father-in-law just finished, we had to continue with the funeral procession of my mother-in-law. For that reason, sometimes, I had to excuse myself from the tasks at my office.





Turtle Island: The Beach

25 02 2009

Petunjuk menuju Turtle Island ada di bagian bawah tulisan ini.

Melanjutkan kunjungan ke perkampungan dan penangkaran penyu, kami pergi ke daerah pantai yang ada di ujung selatan Turtle Island. Terus terang kami terkejut sekali saat kami tiba di daerah menuju pantai Turtle Island. Ternyata wilayah Turtle Island itu sudah dipersiapkan untuk menjadi suatu kawasan resort layaknya Nusa Dua sekarang ini, walaupun sekarang masih dalam tahap yang masih awal sekali.

Tanah-tanah sudah mulai diratakan, bakau-bakau sudah mulai ditebangi dan ditimbun tanah, laut sudah dipersiapkan agar tidak mengalami abrasi dan lain-lain. Dari sini lah rencananya akan dibuat suatu jalan yang akan menghubungkan Turtle Island dengan Tanjung Benoa, sehingga untuk pergi ke Nusa Dua, kita tidak perlu keliling melalui Jalan I Gusti Ngurah Rai, tetapi cukup dengan melintasi jalan ini yang notabene akan jauh lebih pendek.

Di sana kami mencari pantai yang cukup nyaman bagi anak-anak untuk berenang. Pantainya masih lumayan sepi. Resort ataupun pedagang yang berjualan masih pedagang lokal. Tempat berteduh pun belum begitu banyak tersedia. Pantainya sendiri pantai pasir putih yang lumayan luas bagi anak-anak untuk berlarian ke sana kemari. Yang saya baru tahu setelah saya sendiri ikut mandi di pantai adalah di dasar pantainya masih banyak sekali karang-karang laut yang cukup menyakitkan kalau kita berjalan atau berlarian di sana.

Turtle Beach MumTurtle Beach Mum Aya KiyaTurtle Beach Dad Aya KiyaTurtle Beach Aya Kiya

Tapi Aya dan Kiya seperti biasa, tanpa mengindahkan rasa sakit, berlarian ke sana kemari, di pasirnya, di pantainya. Mereka juga meminta untuk menyewa kanoe untuk bermain. Kami berada di Turtle Island hampir seharian, mulai dari ke perkampungan dan penangkaran, dan kemudian setengah hari di pantainya. Sungguh hari yang panjang dan menyenangkan. Tentu saja, untungnya kami juga membawa banyak makanan, jadi saat sudah merasa lapar, apalagi setelah selesai berenang, semua makanan yang dibawa habis terkonsumsi dan masuk ke pencernaan kami yang kosong.

Turtle Beach Dad Aya Kiya KanoeTurtle Beach Aya Kiya Kanoe

Travelling Bali Part 1 Direction: Untuk mencapai Turtle Island, Denpasar, dari arah Bandara Ngurah Rai, anda perlu menyusuri Jalan ByPass I Gusti Ngurah Rai ke arah Sanur. Setelah melewati perempatan Sesetan, anda perlu berputar balik dan mencari jalan ke kiri yang menghubungkan daratan Pulau Bali dan Turtle Island. Letak absolut Turtle Island dapat dilihat dengan membuka peta Pulau Bali melalui thumbnail peta di samping. Letak daerah tersebut tersebut ditandai dengan angka nomor [9].





Turtle Island: The Turtle

25 02 2009

Petunjuk menuju Turtle Island ada di bagian bawah tulisan ini.

Turtle Island merupakan suatu pulau yang ada di pinggiran Kota Denpasar yang terkenal dengan salah satu pura (Pura Sakenan) yang menjadi persingggahan penyebar Agama Hindu di Bali. Jaman dahulu, untuk mencapai Pura tersebut, penduduk harus menggunakan perahu pada saat air pasang atau berjalan kaki kalau air lagi surut. Sekarang ini Turtle Island sudah berubah karena jalan yang menghubungkan daratan Pulau Bali dengan Turtle Island ini sudah selesai dibangun. Bahkan, jalan lintas sebagai jalan alternatif menuju Nusa Dua yaitu jalan layang Turtle Island dan Tanjung Benoa juga rencananya dibangun.

Turtle Island mempunyai sejumlah penduduk yang memang sudah lama menetap di sana. Umumnya pekerjaan mereka adalah sebagai nelayan. Tidak heran kalau kita banyak bertemu dengan pedagang ikan di sekitar kota Denpasar yang berasal dari Turtle Island ini.

Perjalanan kami ke Turtle Island, kami lakukan saat liburan lebaran. Sebenarnya rumah tempat kami tinggal sekarang sangat-sangat dekat dengan pulau tersebut. Tetapi karena tidak ada keperluan untuk pergi ke sana, kami tidak begitu tahu apa yang ada di dalam pulau tersebut. Kami mengelilingi perumahan penduduk terlebih dahulu. Di sana ada beberapa nelayan yang melakukan penangkapan ikan. Kami juga menyempatkan diri untuk singgah di tempat penangkaran penyu, yang menurut penjaga di sana, pembiayaan penangkaran tersebut dibebankan pada organisasi dunia yang bergerak di bidang hewan-hewan yang diperkirakan mengalami kepunahan. Bantuan dari pemerintah daerah Kota Denpasar juga ada.

Turtle Big TurtleTurtle Little Turtle

Di sana kami melihat banyak sekali penyu yang sedang ditangkar. Ada yang baru lahir ada yang sudah besar. Yang baru lahir umumnya dipersiapkan untuk bisa cukup besar untuk dilepas ke lautan. Ada juga penyu-penyu kecil yang sedang sakit, sehingga mereka memerlukan perawatan khusus. Beberapa penyu besar juga yang mengalami hal yang sama, rata-rata kulitnya terkena jamur, juga dipelihara di sana.

Turtle KiyaTurtle AyaTurtle Aya KiyaTurtle Mum Aya

Kami, khususnya Aya dan Kiya, berkesempatan untuk memegang penyu-penyu tersebut dan merasakan bagaimana kulit mereka dan gerak gerik mereka saat mereka di pegang. Pengalaman yang cukup mengesankan, karena kami mendapatkan sedikit pelajaran mengenai penyu dan bagaimana kita perlu untuk lebih care terhadap penyu yang notabene adalah salah satu hewan yang hampir punah dari dunia.

Travelling Bali Part 1 Direction: Untuk mencapai Turtle Island, Denpasar, dari arah Bandara Ngurah Rai, anda perlu menyusuri Jalan ByPass I Gusti Ngurah Rai ke arah Sanur. Setelah melewati perempatan Sesetan, anda perlu berputar balik dan mencari jalan ke kiri yang menghubungkan daratan Pulau Bali dan Turtle Island. Letak absolut Turtle Island dapat dilihat dengan membuka peta Pulau Bali melalui thumbnail peta di samping. Letak daerah tersebut tersebut ditandai dengan angka nomor [9].